Hakikat Bekerja

Aku berpikir agar setiap diberikan instruksi dapat diterima dengan baik dan dikerjakan secara konsisten.

Hari ini adalah hari Selasa yang dekat dengan sebuah hal-hal yang berbau manis. Entah karena penulis yang manis atau sebuah hari yang penuh dengan kata-kata manis.

Kembali aku dihadapkan pada sebuah rutinitas yang tidak dapat aku hindari bahkan aku tolak, sebelum aku sendiri yang mengajukan pengunduran. Aku masih ingin bekerja dengna mencari sebanyak-banyaknya hal yang dapat aku peroleh melalui bekerja.

Dengan bekerja aku merasa lebih hidup.

Aku dapat mengaplikasikan banyak hal dalam lingkungan pekerjaaan, selain untuk menyelesaikan checklist yang belum terisi setelah memakai sebuah toga dan bergelar sarjana. Bekerja merupakan sebuah ladang dan arena pengalaman yang banyak sekali rintangan dan ujiannya.

Seperti hari ini, aku melihat adanya sebuah pola yang entah oleh siapa dan kapan agar segera berakhir. Sebuah pola yang membuat pembicara dengan pendengar menjadi tidak interaktif sehingga, output dari sebuah briefing misalnya menjadi mudah termakan oleh waktu yang semakin bergulir tiap detiknya, Menimbulkan dampak yang hanya awet sekejap mata saja.

Ketika pengawasan dan tingkat kepedulian dari beberapa orang yang bertanggung jawab disana mengendur, maka lemah pula tingkat kepahaman dari materi yang telah di sounding oleh pembicara.

Untuk  dapat tertib membuang sampah atau limbah yang telah dikategorikan menjadi 3 jenis, seperti organik anorganik dan B3 (Bahan beracun dan berbahaya) masih saja sulit untuk disiplin agar sesuai pembuangannya.

Analisa demi anaisa telah dipaparkan dengna sedemikian rupa, mulai dari segi kuantitas perseorangan yang bekerja dalam area tersebut adalah lebih dari 20 orang, maka tingkat dari kedinamisan suatu area akan semakin melemah. Hingga, analisa dari aspek latar belakang keluarga dan pendidikan yang berasal dari keluarga.

Kembali, pada sebuah issue atau materi yang sedang hangat,ketika tidak dijalankan secara konsisten hal itu hanya akan bernilai sebagai bentuk kita menyuarakan tanpa membiasakan.

Menuju sebuah tim yang penuh dengan dedikasi yang tinggi terhadap sebuah langkah kerja, dibutuhkan sebuah pemikiran yang luas dan bisa menerima segala kritik dan masukan yang ada.

Kadang kala, kritik terhadap setiap langkah yang kita kerjakan, membuat diri ini selalu dirundung oleh perasaan “selalu salah”. Merubah sudut pandang dan cara berpikir adalah solusi, agar tidak mudah terbawa oleh perasaa yang terkadang lebih dominan daripada sebuah logika.

Maka sebaiknya disiapkan sebuah pribadi yang memiliki rasa etos kerja dan tingkat kedisiplinan yang tinggi agar issue atau materi yang menuntut kita untuk berperilaku displin akan terus konsisten hingga kita lupa bahwa kita telah mencipakan sebuah kebiasaan.

Maka mulailah untuk selalu berusaha memulai sesuatu tidak hanya sekedar 2 atau 3 hari saja namun bergulir hingga lebih dari satu bulan. Akan terasa sebuah pola dalam berpikir dan berperilaku lebih maju selangkah dari kemarin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s